Perempuan dan Perkawinan

Strì hi brahmà babhùvitha

(Ågveda VIII. 33. 19).

‘Perempuan sesungguhnya adalah seorang sarjana dan seorang pengajar’

Saýhotraý sma purà nàrì, samanaý vàva gacchati

(Atharvaveda XX. 126. 10).

‘Dulu para perempuan pergi ke tempat dilangsungkannya upacara agnihotra

dan ke medan pertempuran’
Pendahuluan

Globalisasi dan pemahaman tentang hak azasi manusia (HAM) membawa konskuensi tentang kesetaraan gender, kedudukan dan persamaan hak dan kewajiban setiap orang baik laki-laki maupun perempuan. Tuntutan tersebut adalah hal yang wajar bila setiap umat beragama menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan menyadari bahwa seorang perempuan adalah sekaligus juga seorang ibu atau calon ibu yang akan menurunkan anak-anak yang berbudhi pekerti luhur. Berbicara mengenai perempuan dan perkawinan dalam perspektif Agama Hindu tidak dapat untuk tidak merujuk kepada kitab suci Veda dan susastra Hindu lainnya sebagai sumber ajaran Agama Hindu yang di dalamnya juga menguraikan tentang keutamaan perempuan, kedudukan perempuan, pendidikan anak perempuan termasuk juga tentang perkawinan. Kewajiban suami dan istri serta bagaimana mendidik anak-anak yang dilahirkan dalam sebuah keluarga sehingga anak tersebut menjadi anak yang suputra, yakni anak yang berbakti kepada kedua orang tua, keluarga dan berguna bagi masyarakat dan bangsa. Dari ayah dan ibu yang baik tentang akan lahir putra-putri yang baik merupakan sebuah adigium yang umum di masyarakat. Demikian pula anak merupakan cerminan dari kedua orang tuanya menuntut setiap orang tua untuk dapat mendidik anaknya menjadi putra-putri yang baik pula.

Tulisan ringkas ini mengetengahkan perempuann dan perkawinan dari perspektif agama Hindu dengan pokok bahasan perempuan menurut kitab suci Veda, makna, tujuan dan jenis perkawinan dan realitas perkawinan dalam masyarakat Bali yang mayoritas (93,5 %) menganut agama Hindu. Uraiannya bersifat deskriptif dan normatif, namun tidak akan terlepas dari realitas sosial di masyarakat berdasarkan pengamatan empirik.

Perempuan Menurut Veda dan Susastra Hindu

Penghargaan kepada perempuan, wanita, istri atau putri sesungguhnya demikian tinggi. Di dalam kitab suci Veda dan susastra Hindu lainnya, dengan demikian maka bila terjadi pelecehan terhadap wanita, sesungguhnya pelakunya yang tidak memahami tentang kedudukan wanita dalam agama Hindu. Banyak tokoh-tokoh wanita disebutkan dalam kitab suci Veda dan susastra Hindu lainnya sangat dihormati karena kesucian, kecerdasan dan kepemimpinannya.

Untuk melihat tokoh-tokoh ideal dalam agama Hindu, maka dapat dirunut pada pengelompokan atas profesi seseorang. Di antara profesi tersebut yang mendapatkan posisi sangat terhormat adalah posisi sebagai Bràhamaóa dan Kûatriya. Tokoh-tokoh terkemuka di kalangan profesi Bràhmaóa adalah para Maharûi, Saýnyàsin, Sadhu atau orang-orang suci yang tersebut dalam kitab suci Veda maupun susastra Hindu lainnya seperti di dalam kitab-kitab Upaniûad, Itihàsa, Puràóa, termasuk pula kitab-kitab parwa dan kakawin di Indonesia. Intinya, kita bisa mengkaji melalui Veda dan susastra Hindu baik yang berbahasa Sanskerta maupun dalam karya sastra yang menggunakan media bahasa Jawa Kuno. Lebih jauh tokoh-tokoh ideal dalam agama Hindu dapat dimulai dari tokoh-tokoh yang disebutkan dalam kitab suci Veda, sebagai para Brahmavàdinì antara lain: Viûvavàrà, Apàlà, Ghoûà, Godhà istri dari Vasukra, saudara perempuan dari maharûi Agastya, Lopàmudrà, Ûaûvatì dan Romaûà. Di samping nama-nama tersebut ada lagi Vàch (Sushil, 1982:130). Selain tokoh-tokoh Brahmavàdinì di atas, di dalam kitab-kitab Upaniûad terdapat tokoh-tokoh yang dikenal sebagai perempuan ideal dan ahli filsafat, yaitu: Maitreyì, Kàtyàyanì, yang merupakan dua istri dari Yàjñvalkya, seorang maharsi yang sering dan amat dominan disebutkan di dalam kitab-kitab Upaniûad. Tokoh perempuan lainnya adalah Gàrgì, yang merupakan putra seorang tokoh atau pahlawan yang berasal dari kota Banares (Ibid: 138).

Berikut kami sampaikan bagaimana pandangan kitab suci Veda terhadap seorang perempuan, istri atau wanita: Seorang gadis hendaknya suci, berbudi luhur dan berpengetahuan tinggi (Atharvaveda XI.1.27). Seorang gadis menentukan sendiri peria idamanan calon suaminya (svayaývara/Ågveda X.27.12). Mempelai wanita sumber kemakmuran (Ågveda X.85.36), Seorang lelaki yang terlalu banyak mempunyai anak selalu menderita (Ågveda I.164.32). Terjemahan mantra ini menunjukkan bahwa bila lelaki tidak merencanakan keluarganya (istrinya terlalu banyak melahirkan, atau suami banyak punya istri dan anak) tentunya sangat menderita. Pengendalian nafsu seks juga mendapat perhatian dalam kitab suci Veda. Lebih lanjut seorang wanita dituntut untuk percaya kepada suami, dengan kepercayaannya itu (patibrata), seorang istri dan keluarga akan memperoleh kebahagiaan (Atharvaveda XIV.1.42).

Lebih jauh keutamaan seorang perempuan atau wanita di dalam kitab suci Veda dinyatakan memiliki sifat innovatif, cemerlang, mantap, memberi kemakmuran, diharapkan untuk cerdas menjadi sarjana, gagah berani dan dapat memimpin pasukan ke medan pertempuran dan senantiasa percaya diri.(Yajurveda XIV.21, Ågveda VIII.33.19, Atharvaveda XX.126.10, Ågveda X. 86.9, Ågveda X.159.2, Atharvaveda I.27.2, 4; Yajurveda XIII.26, Yajurveda V.10 dan Atharvaveda XIV.2.14). Dalam pengamatan kami terhadap mantra-mantra Veda, tidaklah menemukan diskriminasi antara seorang perempuan dengan laki-laki, anak laki-laki dengan anak perempuan dan sejenisnya.

Tokoh-tokoh perempuan ideal lainnya dapat dijumpai dalam kitab-kitab Itihàsa dan Puràóa, khususnya dalam Ràmàyaóa, antara lain: Anasùyà (seorang perempuan pertapa dan Jñànin yang pernah bertemu memberi nasehat kepada Ràma, Sità dan Lakûamaóa), Ûabarì (seorang bhakta yang tulus dan merupakan abdi dari maharûi Mataòga), Svayamprabha (pertapa perempuan yang memberikan bantuan kepada Sang Hanùman), Ahalyà (istri maharûi Gautama), Saramà (perempuan yang ditugaskan oleh Ràvaóa untuk menjaga dewi Sità), Trijaþà (putra Vibhìsaóa yang sangat telaten melayani dan melindungi dewi Sità), Mandodarì (istri Ràvaóa), Tara (istri Sugriva yang dilarikan oleh Subali), Kausalyà (ibu Úrì Ràma), Sumitrà (ibu dari Lakûamaóa dan Satrughna), Sìtà (tokoh sentral dan perempuan ideal dalam Ràmàyaóa (Nihshreyasananda, 1982:142-16). Dalam Mahàbhàrata, antara lain: Kuntì (ibu dari Pandava), dan Draupadì (istri dari Pandava/Tripurari Chakravarti, 1982:173-176). Di samping itu terdapat juga: Úakuntalà (leluhur raja-raja Hastina/ Pandava dan Kaurava), Damayantì (istri prabhu Nala), dan Savitrì (putri maharaja Aúvapati )(Suniti, 1982:205, 214).

Di dalam kitab-kitab Puràóa dapat dijumpai nama seorang perempuan ideal, yaitu: Devahùtì (ibu dari maharûi Kapila, seorang tokoh dan pendiri dari filsafat Saýkhya atau Saýkhya atau Saýkhya Darúana)(Rajendra, 1982: 229). Hal yang sangat menarik, di Bali dapat dijumpai sebuah mantra yang populer disebut dengan nama Smarastava, Panca Kanyam. Mantram ini terdiri dari satu bait mantram yang biasa digunakan dalam upacara kematian, dengan harapan orang yaing meninggal tersebut mencapai kebahagiaan di alam baka. Menurut informant pandita Úiva, mantram ini digunakan pada waktu upacara kehamilan (upacara pada saat seorang istri hamil) dan pada saat bayi berumur tiga bulan (Hooykaas, 1971:38). Berikut kami petikkan mantram Smarastava, Pañca Kanya, sebagai berikut:

Ahalyà Draupadì Sità, Tàrà Mandodarì tathà,

Pañca-kanyam smaren nityam, Mahà-pàtaka-nàúanam.

‘Seseorang hendaknya bermeditasi kepada 5 perempuan

mulia, yaitu: Ahalyà, Draupadì, Sità, Tàrà dan Mandodarì.

Mereka yang melakukan hal itu, segala dosanya akan dile-

Nyapkan’.

Terhadap mantram di atas, Prof. Dr. C. Hooykaas (1970:38) memberikan penjelasan tentang kelima perempuan mulia itu, sebagai berikut: “Ahalyà populer dikenal sebagai istri dari maharûi Gautama, ia melakukan perbuatan serong dengan dewa Indra dan kemudian dihukum dengan pengucilan abadi, yang kemudian diselamatkan (dibebaskan) oleh Úrì Ràma. Draupadì dan Sità adalah masing-masing pahlawan perempuan dalam Mahàbhàrata dan Ràmàyaóa. Tàrà adalah istri Båhaspati yang dilarikan oleh Soma, dan Mandodarì tercatat sebagai yang paling favorit dari para istri Ràvaóa. Kelima orang perempuan mulia itu digambarkan secara tradisional sebagai perempuan yang sangat cantik dan menawan. Tokoh-tokoh perempuan ideal tersebut pada umumnya dari kalangan profesi Bràhmaóa dan Kûatriya. Demikian antara lain tokoh-tokoh perempuan ideal dalam Veda dan susastra Hindu lainnya. Di samping tokoh-tokoh ideal di atas, terdapat juga tokoh-tokoh yang tidak patut ditiru, antara lain: Kaikeyì, Surphanaka (Titib, 1998:53) di dalam kitab Ràmàyaóa.

Di dalam sejarah Indonesia dikenal pula tokoh Ratu Simhà yang sangat adil menurut prasasti Dinoyo. Pramodhavardhanì, salah seorang keturunan maharaja Sanjaya di Jawa Tengah. Ratu Gàyatrì dan Tribhuvanatunggadevì, ratu-ratu yang terkenal semasa kerajaan Majapahit. Di Bali dikenal pula ratu Vijayamahàdevì dan Guóapriyà-dharmapatnì.

Berdasarkan informasi tersebut di atas, dapat diketahui bahwa menurut Veda, susastra Hindu dan juga sejarah Indonesia, perempuan menduduki tempat yang tinggi dan bahkan di dalam Veda, perempuan dapat memimpin, pimpinan sidang parlemen, cendekiawan dan bahkan terjun sebagai panglima perang memimpin pertempuran.

Makna, Tujuan, dan Jenis Perkawinan

Kitab suci Veda mengamanatkan makna perkawinan sebagai penyatuan suami istri yang tidak dapat dipisahkan dan mampu melahirkan putra suputra yang dapat memberikan dan mewujudkan kebahagiaan lahir dan bathin. Berikut dikutipkan mantra Veda dimaksud.

Úaý jàspatyaý suyamam astu devàh.

Ågveda X. 85. 23

‘Ya, para dewata, semoga kehidupan per¬kawinan kami berbahagia dan tenteram’

Asthùri no gàrhapatyàni santu.

Ågveda VI. 15. 19

‘Hendaknyalah hubungan suami istri kami tidak bisa putus berlangsung abadi’

Sam añjantu viúve devàá,

sam àpo hådayàni nau.

Ågveda X. 85. 47

‘Semoga para dewatà dan àpah mempersatukan hati kami, suami istri’

Ihaiva staý mà vi yauûþaý,

viúvàm àyur vyaúnutam.

krìðantau putrair naptåbhiá,

modamànau sve gåhe.

Ågveda X. 85. 42

‘Ya, pasangan suami isteri, semoga ¬anda tetap di sini dan tidak pernah terpisahkan. Semo¬ga anda berdua mencapai hidup yang penuh kebahagiaan. Semoga anda, bermain dengan anak anak lakimu dan cucu cucu la¬kimu, tinggal di rumah ini dengan gembira’

Mantra terakhir (Ågveda 85.42) tersebut di atas dapat kita jumpai kembali di dalam kitab Atharvaveda XIV.1.22 yang menyiratkan tentang makna perkawinan untuk mewujudkan kehidupan dan kebahagian bersama dengan putra – putri dan cucu-cucu yang lahir dari perkawinan mempelai diamanatkan untuk bergembira dan tinggal di rumah sendiri yang menunjukkan kepada kita seseorang yang telah siap memasuki masa Gåhastha (hidup berumah tangga) hendaknya dapat menyiapkan rumah sendiri, tidak tergantung kepada orang lain. Jadi sebelum memasuki Grhasthàúrama, seorang Brahmacari secara matang harus mampu mandiri untuk nantinya dapat memwujudkan perkawianan ideal sebagai diamanatkan dalam mantra Veda dia atas. Untuk itu seseorang dituntut bekerja keras sesuai dengan Dharma.

Lebih jauh tentang makna atau prinsip dasar tentang tujuan perkawianan ditegaskan dalam kitab-kitab Dharmaúàstra adalah untuk mewujudkan 3 hal, yaitu:

a. Dharmasampatti, kedua mempelai secara bersama-sam melaksanakan Dharma yang meliputi semua aktivitas dan kewajiban agama seperti melaksanakan Yajña, sebab di dalam Grhastalah Yajña dapat dilaksanakan secara sempurna.

b. Prajà, kedua mempelai mampu melahirkan keturunan (putra-putri) yang akan melanjutkan amanat dan kewajiban kepada leluhur. Melalui Yajña dan lahirnya putra yang suputra (berbudhi pekerti luhur) seorang anak akan dapat melunasi hutang jasa kepada leluhur (Pitraåóa), kepada tuhan Yang Maha Esa (Devaåóa) dan kepada para guru (Rsiåóa).

c. Rati, kedua mempelai dapat menikmati kepuasan seksual dan kepuasan-kepuasan lainnya (Artha dan Kàma) yang tidak bertentangan Dharma (Kantawala, 1989: 89).

Berdasarkan kutipan tersebut di atas, makna perkawianan menurut kitab suci veda dan susastra Hindu lainnya adalah untuk mewujudkan kebahagiaan bersama lahir dan batin termasuk pula dalam pengertian memperoleh keturunan yang suputra (anak-anak dan cucu-cucu) sebagai penerus kehidupan keluarga. Lebih jauh kitab suci Veda menyatakan bahwa suami istri itu satu jiwa dalam dua badan:

Akûyau nau madhusaýkàúe nau samañjanam,

Antaá kåóuûva màý hådi mana innau sahàsati.

Atharvaveda VII.36.1.

‘Hendaknya manis bagikan madu cinta kasih dan pandangan antra suami dan istri penuh keindahan. Semogalah senantiasa hidup berama dalam suasana bahagia tanpa kedengkian (di atara mereka). Semoga satu jiwa bagi keduanya’.

Terhadap terjemahan mantra ini, Devi Chand (1982:299) menjelaskan: Hendaknya saling mengusahakn kebahagiaan bersama seperti halnya para dokter meneliti tumbuh-tumbuhan untuk memperoleh manfaat dari tumbuh-tumbuhan itu (sebagi obat yang berguna). Demikianlah antara suami dan istri senantiasa berusaha untuk mewujudkan kesejahtraan dan kegahagiaan sesuai Brata-Brata Vivàha (kewajiban dan pantangan-pantangan) dalam perkawinan.

Suami dan istri hendaknya tidak jemu-jemunya mengusahakan dan mewujudkan kerukunan serta kebahagian dalam rumah tangga diamanatkan pula dalam Manavadharmaúàstra sebagai berikut.

Tathà nityaý yateyàtàý strìpuýsau tu kåtàkriyau,

Yathà nàbhicaretàý tau viyuktà vitaretaram.

Manavadharmaúàstra IX .102.

‘Hendaknya laki-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan perkawinan, mengusahkan dengan tidak jemu-jemunya agar mereka tidak bercerai, mewujudkan antara yang satu dengan yang lain’.

Anyonyasyàvy abhicàro bhaved àmaraóàntikaá,

Eûa dharmaá samasena jñeyaá strì puýsayoá paraá.

Manavadharmaúàstra IX.101.

‘Hendaknya hubungan yang setia berlangsung sampai mati, singkatnya, hal ini harus dianggap hukum yang tertinggi bagi suami istri’.

Samtuûto bhàryàyà bhartà bhartrà bhàrya tathàiva ca,

Yasminn eva kule nityaý kàlyaóaý tatra vai dhruvam.

Manavadharmaúàstra III.60.

‘Keluarga dimana suami berbahagia dengan istrinya dan demikian pula sang istri terhadap suaminya, kebahagian pasti kekal abadi’.

Suami dan istri diamanatkan untuk senantiasa melaksanakan kewajiban dan jalan yang benar (mengikuti hukum yang berlaku) dan memperoleh putra yang perwira, membangun rumah sendiri dan hidup di dalamnya:

Syonàdyoneraghi budhyamànau sahàmudau hasàmudau mahasà modamànau,

Sugù suputrau sugùhrau tara-thau jìvàbuûaso vibhatìá.

Atharvaveda XIV.2.43.

‘Wahai suami dan istri, hendaknya kamu berbudi pekerti yang luhur, penuh kasih sayang dan kemesraan di antara kamu. Lakukanlah tugas dan kewajibanmu dengan baik dan patuh kepada hukum yang berlaku. Turunkanlah putra-putri yang perwira, bangunlah rumahmu sendiri dan hiduplah dengan suka cita di dalamnya’.

Hal yang menarik dari upacara perkawinan (Saýskara Vivàha) adalah sumpah atau pengukuhan perkawinan yang disebut Panigrahana dan Saptapadi. Upacara yang bersumber dari tradisi upacara Veda kuna, ribuan tahun yang lalu samapai kini masih dilakukan oleh umat Hindu di India. Yang dimaksud dengan upacara Panigrahaóa adalah mempelai laki-laki memandang dan kemudian mengambil tangan calon istrinya (mempelai perempuan) kemudian melangkah bergandangan bersama sebanyak 7 langkah (Saptapadi) Mengelilingi api suci (Pradakûina terhadap Api Agnihotra) sambil mengucapkan mantra Veda sebagai berikut.

Gåbhóàmi te saubhaggatvàya hastaý may patyà

jarad aûþhir yathàsaá,

bhago aryamà savità puraýdhirmahyaý tvadur gàrha-

patyàya devaá.

Ågveda X.85.36

‘Saya pegang tanganmu demi keberuntungan, semoga kiranya engkau hidup lama bersama saya, suamimu; dewa Bhagà, Aryamà, Savità, Purandhi menyerahkan engkau kepada aku sebagai pengatur rumahku’.

Lebih jauh mempelai laki-laki mengatakan.

Sam añjantu viúve devàá sam àpo hådayàni nau,

Saý màtarisvà saý dhàta sam u deûþrì dadhàtu nau.

Ågveda X. 85.47

‘Semoga semua dewa dan dewa Air Kehidupan mempersatukan hati kami, semoga Mantarisvà , Dhàta dan Destrì semuanya menyatukan kami’.

Selanjutnya mempelai perempuan menjawabnya dengan mengucapkan mantra dari Atharvaveda yang terjemahannya sebagai berikut.

Dìrghayurastu me patirjìvàti úaradaá úatam.

Atharvaveda XIV.2.63

‘Semoga suamiku dikarunai umur panjang, semoga ia hidup seratus tahun’.

Hadirin yang ikut menyaksikan upacara itu diminta pula bersama-sama mengucapkan doa.

Ihemavindra saý nuda cakravàkeva dampati,

Prajayainau svastakau viúvamàyu vyar’sntutàm.

Atharvaveda XIV.2.64

‘Ya Tuhan Yang Maha Esa dalam wujud-Mu sebagi Indra, persatuakanlah kedua mempelai ini, laksana burung Chakravaka dan betinanya. Semoga mencapai umur panjang, memperoleh putra yang memberi kebahagiaan dalam rumah tangganya’.

Sumpah perkawinan ini menjdai pengikat memperkokoh perkawian suami istri di India dan telah dijalankan selama beribu-ribu tahun. “Sebagai Penguasa rumah tangga – Grahpatya” mengatur kehidupan rumah tangga yang ideal dalam Gåhasthàúrama. Idealnya dalam keluarga Hindu, suami sebagi kepala rumah tangga disebut Grahapatya atau Grahapati sedang istrinya adalah ratu rumah tangga yang disebut Rajñi atau Patnì.

Saý ràjñì úvaúure bhava saý ràjñì úvaúravaý bhava,

nanandari saý ràjñì bhava saý ràjñì adhi devåúu.

Ågveda X.85.46

‘Wahai mempelai perempuan, jadilah engkau ratu bagi mertua laki-lakimu, ratu bagi mertua perempuanmu, ratu bagi ipar-ipar perempuanmu, dan ratu bagi ipar-ipar laki-lakimu’.

Mantram di atas merupakan rakhmat bagi mempelai perempuan yang harus dihormati oleh keluarga laki-lakinya. Kedudukan perempuan sebagi istri sangat terhormat sebagai dinyatakan dalam mantra berikut.

Pùûà tveto nayatu hastagåhyàúvinà tvà pra vahatàý rathena,

Gåhàn gacha gåhapatnì yathàso vaúanì tvaý vidatham à vadàsi.

Ågveda X.85.26.

‘Agar dewa Pùûan memegang tanganmu dan mengantar engkau, semoga pula kedua dewa Aúvin membawa dengan kereta mereka menuju rumahmu sehingga engkau bisa menjadi pengatur rumah tangga yang akan mengatur kehidupan keluarga’.

Bila memperhatikan mantra-mantra kitab suci Veda, maka kitab suci Veda mengajarkan perkawianan monogami. Cita-cita Veda adalah perkawinan monogami, hubungan dua insan (suami-istri) seumur hidup. Tentunya hal ini telah dilaksanakan dengan baik, terbukti pada kenyataannya Veda mengumpamakan sepasang mempelai sebagi dewa kembar Aúvinà, satu jiwa dua badan, bagai dua mata, dua bibir dan sebagainya.

Adapun makna Saptapadi, yakni melangkah 7 langkah mulai dari arah Timur Laut mengeliling Api Agnihotra (Api suci sebagi saksi perkawinan / upacara suci), Dr. Rajbali Pandey dalam bukunya Hindu Samskaras, Socio-religious study of the Hindu sacraments (1991:23) dengan merujuk kitab Yajñavalkyasmrti dan kitab-kitab Dharmasùtra linnya menyatakan bahwa masing-masing langkah ini mempunyai makna sebagai berikut.

a. Langkah pertama untuk memohon kesejahtraan bagi yang bergetah.

b. Langkah kedua untuk memperoleh kegembitraan dan kegahagiaan.

c. Langkah ketiga untuk berhasil memperoleh kekayaan.

d. Langkah keempat untuk memperoleh kegembiraan dan kegahagiaan.

e. Langkah kelima untuk memohon kesuburan ternak.

f. Langkah keenam untuk memohon keberhasilan dalam pertanian (melalui misim yang baik) dan

g. Langkah yang ketujuh untuk kestuan pengantin (kedua mempelai).

Obyek dari ketujuh langkah itu jelas adalah hal yang mendasar dalam kehidupan rumah tangga. Upacara agama (Saptapadi) ini adalah upacara yang sangat penting dan dengan demikian perkawinan ini telah sah dan lengkap bila upacara ini telah dilaksanakan.

Upacara yang dianggap penting lainnya adalah Lajahoma,yaitu mempersembah- kan biji padi yang kering ke dalam api suci (Agnihotra) yang mempunai makna mohon keberuntungan kepada Tuhan Yang Maha Esa dipimpin oleh seorang Pandita dengan mengucapkan mantra-mantra Veda.

Selanjutnya mengenai jenis atau macam perkawinan (Vivàha), kitab Manava-dharmaúàstra mengamanatkan adanya delapan jenis atau sistem perkawinan dan di antara yang delapan jenis itu, lima macam tidak boleh dilakukan oleh orang berbudi pekerti luhur. Berikut dikutipkan pernyataan dalam kitab tersebut.

Caturóàm api varóànàý pretya ceha hitàhitàn,

Aûþàvimàn samàsena strìvàhanni bodhata.

Manavadharmaúàstra III.20.

‘Sekarang dengarkanlah uraian singkat mengenai delapan macam cara perkawinan yang dilakukan oleh keempat profesi (varóa), yang sebagian akan menimbulkan kebajikan dan yang sebagian ketidak-baikan dalam hidup ini atau sesudah mati’

bràhmayo daivastathe vàrûaá pràjàpatyas tathàsuraá,

gàndharvo ràkûasaú caiva paiúàcas’ càûþamo’dhamaá.

Manavadharmaúàstra III.21.

‘Jenis atau sistem perkawinan itu adalah Bràhma, Daiva, Åûi (Arsa), Prajàpati, Asura, Gandharva, Raksasa dan Paiúaca’.

Lebih jauh tentang uraian masing-masing sistem perkawinan itu, kitab Manava-dharmaúàstra III.27-34 menjelaskan sangat terperinci yang dapat diringkas sebagai berikut.

1) Pemberian seorang gadis kepada seorang yang akhli Veda disebut Bràhmavivàha.

2) Pemberian seorang gadis kepada seorang pandita disebut Daivavivàha.

3) Seorang ayah menerima mas kawin dari calon menantunya sesuai dengan peraturan yang berlaku disebut Arsavivàha.

4) Perkawinan atas dasar cinta kasih dan mendapat restu dari orang tua calon memperlai perempuan disebut Prajàpativivàha.

5) Perkawinan yang didasari cinta kasih dari kedua calon mempelai walaupun tidak mendapat restu orang tua disebut Gandharvavivàha.

6) Orang tua dan keluarga mempelai perempuan menerima maskawin dari calon menantunya yang tidak didorong oleh keinginan mempelai peria disebut Asuravivàha.

7) Melarikan dengan paksa seorang gadis yang berteriak menangis, dan membunuh serta membakar rumah keluarga gadis itu disebut Raksasavivàha.

8) Seorang gadis dicuri, diperkosa saat ia tidur, dibuat mabuk dan bingung disebut Paiúacavivàha dan merupakan perkawinan yang paling rendah martabatnya.

Dari delapan jenis sistem perkawinan di atas, tiga yang terakhir, yakni Asura, Raksasa dan Paiúaca pantang dilakukan karena hal tersebut bertentangan dengan ajaran agama dan hukum. Demikianlah sekailas makna perkawinan yang dapat kita jumpai dalam kitab-kitab Dharmasutra dan suasatra Hindu lainnya seperti Itihasa, Purana dan lain-lain.

Perkawinan Hindu di Bali, Sebuah Pengamatan Empirik

Dikemukakannya perkawinan umat Hindu di Bali dalam tulisan ini, sebagai dimaklumi bahwa mayoritas (lebih dari 93,5 %) penduduk Bali menganut agama Hindu, dengan demikian pengamatan terhadap perkawinan di daerah ini merupakan hal perlu untuk dipertimbangkan. Umat Hindu di daerah lainnya di Indonesia menempati posisi minoritas, walaupun ada beberapa daerah lainnya di luar pulau Bali, namun posisi mereka tidak dalam satu etnis, sehingga perkawinanHindu di daerah tersebut tampak mendapat pengaruh dari budaya setempat.

Berdasarkan pengamatan sejak beberapa tahun terakhir terjadi pergeseran utamanya dalam sistem atau jenis perkawinan, sedang acara ritual (upacara agama Hindu) tidak begitu menampakkan perubahan. Sebelum tahun 1960-an, ketika baru beberapa tahun Indonesia merdeka, masih ditemukan sistem perkawinan yang mendekati sistem perkawinan Raksasa dan Paiúaca seperti diuraiakan di atas. Pada masa itu, walaupun tidak banyak dapat ditemukan sistem perkawinan yang disebut ‘Mlagandang’, ‘Mrekunung’ dan ‘Mrekopong’, yakni perkawinan dengan memaksa mempelai perempuan, melarikan, memperkosa, membuat mabuk dan tidak berdaya dan bahkan dengan ancaman akan dibunuh oleh calon mempelai laki-laki bersama keluarganya. Setelah tahun 1960, didukung pula pendidikan masyarakat yang semakin maju dan diikuti dengan penegakkan hukum dan perundang-undangan, kasus-kasus semacam itu tidak tampak lagi terjadi.

Di Bali dikenali dengan tiga jenis atau sistem perkawinan, yaitu perkawinan meminang (Mapadik/Ngidih), kawin selarian (Ngelayat atau Ngerorod) dan perkawinan Nyentana atau Nyeburin. Berikut diuraikan masing-masing jenis perkawinan tersebut.

1) Mapadik/Ngidih adalah perkawinan meminang yang dilakukan oleh keluarga calon mempelai laki-laki yang datang meminang ke rumah calon mempelai perempuan. Meminang dapat dilakukan bila telah ada kesepakatan antara kedua calon mempelai dan keduanya saling mencintai serta pelaksanaannya keluarga mempelai laki-laki diminta secara formal pada hari yang dianggap baik untuk meminang selanjutnya dilakukan upacara perkawinan (Saýskaravivàha) sesuai dengan ketentuan dalam agama Hindu. Kini perkawinan meminang ini merupakan hal yang umum dan lumrah dilakukan oleh seluruh kalangan masyarakat.

2) Ngelayat/Ngerorod. Perkawinan selarian atau sering disingkat kawin lari dimaksudkan bahwa kedua calon mempelai atas dasar saling mencintai sepakat untuk lari bersama-sama ke rumah pihak ketiga untuk melakukan perkawinan. Oleh keluarga pihak ketiga dipermaklumkan kepada orang tua gadis dan orang tua calon mempelai laki-laki bahwa akan dilangsungkan upacara perkawinan. Perkawinan ini semacam katup pengaman bagi perkawinan yang tidak mendapast restu oleh orang tua mempelai perempuan. Di masa lalu keluarga-keluarga tertentu merasa lebih bermartabat bila menempuh perkawinan ini, karena bila meminang, terasa kehormatan keluarga laki-laki direndahkan, di samping dari segi pembiayaan perkawinan ini lebih sedikit menghabiskan biaya dibandingkan dengan perkawinan sistem meminang. Dewasa ini perkawinan Ngelayat atau Ngerorod ini sudah banyak ditinggalkan. Masyarakat kini merasa malu kalau keluarganya menempuh kawin lari, kacuali karena faktor-faktor tertentu terutama menyangkut harga diri seseorang yang masih ditutupi oleh kabut feodalisme.

3) Nyentana/Nyeburin. Nyentana dipandang lebih terhormat dibandingkan dengan Nyeburin. Kedua jenis perkawinan ini merupakan kebalikan dari sistem perkawinan yang umum, utamanya menyangkut status mempelai laki-laki. Dalam kedua jenis perkawinan ini, mempelai laki-laki tinggal di rumah asal mempelai perempuan dan statusnya sebaagai status mempelai perempuan utamanya menyangkut waris dan kewajiban memelihara pura keluarga mempelai perempuan. Dalam perkawinan Nyentana, keluarga mempelai perempuan meminang calin mempelai laki-laki, sedang dalam Nyeburin, mempelai laki-laki datang ke rumah mempelai perempuan untuk mengikuti upacara perkawinan. Kedua jenis perkawinan di atas umum dilakukan di Kabupaten Tabanan, Bali walaupun di keluarga mempelai wanita terdapat saudara-saudaranya yang laki-laki sebagai pelanjut keturunan keluarga itu.
Simpulan

Dari uraian tersebut di atas dapat ditarik simpulan sebagai berikut:

1) Perempuan Hindu menurut Veda dan Susastra Hindu memiliki kedudukan yang tinggi, terhormat, sebagai sarjana, dapat memimpin pasukan ke medan perang, sebagai guru, sebagai ibu atau calon ibu yang akan melahirkan putra suputra, perwira dan berbudhi pekerti yang luhur.

2) Perkawinan dalam perspektif Hindu mengandung makna untuk secara sempurna melaksanakan ajaran agama (dharma), melahirkan putra suputra dan berbudi pekerti yang luhur, serta memuaskan dorongan nafsu seksual sesuai dengan ajaran agama dan hukum yang berlaku.

3) Azas perkawinan Hindu adalah monogami, dengan sistem perkawinan laki-laki sebagai kepala rumah tangga (patriarchat) dalam keadaan seseorang tidak memiliki anak laki-laki, anak perempuan dapat distatuskan sebagai purusa (laki-laki) untuk melanjutkan keturunan, pemeliharaan tempat suci keluarga dan pewarisan.